Thursday, September 15, 2016

Collection (3) V. Lestari

Sebagian besar novel karangan V. Lestari ber thema kan misteri dan horror ringan. Membaca novel beliau benar benar mengasyikkan..makin tebal novelnya, makin seru ceritanya.

Sampai saat ini beliau masih aktif menulis dan novelnya masih di cetak ulang...

Collection (2) - S. Mara Gd

Ini koleksi favoriteku...novel novel misteri karangan ibu S. Mara Gd.

Konon ibu S. Mara Gd adalah penterjemah novel karangan Agatha Christie. Jalinan cerita di novel novel beliau seringkali unpredictable. Kalau ada kasus pembunuhan, di awal awal kita sering salah menduga siapa pelakunya. Namun di akhir cerita baru terbongkar siapa sejatinya sang pembunuh.

Tokoh sentral dalam sebagian besar novel beliau adalah Kapten Polisi Kosasih dan asisten khususnya, Gozali yang mantan napi. Dengan bumbu roman roman tipis antara Gozali dan anak Kosasih, novel S. Mara Gd jadi penuh warna. Apalagi lokasi kejadian selalu sekitar Surabaya dan Jawa Timur...makin menarik, karena bisa membantu aku berimaginasi lebih jauh 😀

Ibu  S. Mara Gd saat ini berusia 67 tahun, masih aktif menulis tapi tidak lagi menulis novel melainkan artikel rohani.

Dan ternyata banyak sekali penggemar novel beliau sampai saat ini..ketika novelnya sudah langka di toko buku. Semoga suatu saat semua novel S. Mara Gd dicetak ulang lagi...#cross my fingers...

Collections (1) Agatha Christie..

Lately, aku hanya membeli novel novel seri dari pengarang yang aku benar benar suka.

'Penyakitku', kalau sudah niat koleksi, pasti bela belain nyari ke sana sini sampai lengkap.

Malangnya, kebanyakan novel ini sudah tidak ada lagi di toko buku...jadi dengan semangat bergelora, aku hunting ke penjual buku bekas, baik offline maupun online

Ini koleksi pertama.. Agatha Christie.. belum lengkap tapi sudah lumayan. Buku buku nya tipis, bacanya cepat tapi banyak ilmu yang aku dapat. Salah satunya adalah racun Sianida yang bekerja sempurna dalam es kopi...related dengan kasus pembunuhan Mirna Salihin yang sedang rame dibahas di media beberapa bulan terakhir ini...

Saturday, July 30, 2016

S. Mara Gd : Misteri Anak Yang Hilang

Lately, hmmm....kira kira 2 atau 3 bulan terakhir ini aku sedang tergila gila dengan novel karangan ibu S. Mara Gd.

Sebenarnya dulu banget aku sudah kenal dengan karangan beliau, dan sempat punya 2 novelnya yang masih bercover biru dan hitam. Sekitar awal tahun 90an...namun saat itu aku sedang menggemari genre love story, macam Mira W, jadi tidak serius mengikuti karya beliau.

Nah, kapan hari waktu bongkar bongkar obralan buku di Cito mall, aku nemu beberapa novelnya, dan karena sekarang aku suka dengan genre Misteri dan detektif, aku beli. Ternyata oh, ternyata aku suka banget.

Mulailah aku mencari ke sana sini, karena aku berniat melengkapi koleksiku. Semua tempat buku obral, toko buku biasa bahkan sampai toko buku bekas di jalan Semarang aku datangi, namun belum terlalu banyak aku dapatkan novelnya. Mungkin karena sudah terlalu lama...dan konon ibu S. Mara Gd tidak tertarik lagi untuk menulis novel, dan mungkin juga tidak mau novelnya dicetak ulang. Saat ini beliau aktif menulis artikel rohani.

Misteri anak yang hilang, novel yang terbit tahun 1996 ini adalah satu satunya novel bu Mara yang dari awal sudah bisa aku tebak siapa pelaku kejahatan. Biasanya aku selalu salah tebak 😀.

Semua novel S. Mara Gd mengambil lokasi utama di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Lokasi pabrik selalu di daerah Rungkut...daerah kantorku. Kalau perumahan, di Dharmahusada, yang memang lokasi rumah mewah... dengan demikian membuat aku makin terpukau karena bisa membaca sambil membayangkan 😀

Di sini beliau menceritakan tentang racun sianida, yang mudah dibeli di Australia. Dan aku jadi menyambungkan dengan pembunuhan Wayan Mirna yang diduga dilakukan oleh Jessica Wongso, sahabatnya sendiri waktu sama sama sekolah di Australia... yang terakhir ini kisah nyata yang terjadi Bulan January 2016 lalu.

Aku tidak akan membuat sinopsis novel ini, karena akan kill the fun..yang pasti harus aku akui, bu Mara hebat banget dalam merangkai ceritanya. Setiap orang punya kesempatan untuk dituduh sebagai pembunuh,  namun in the end, pembunuh yang sesungguhnya tertangkap karena keteledoran kecil. Duet Kapten Kosasih dan Gozali, mantan pencuri juga menjadi daya tarik novel ini..dan tak lupa kisah cinta puteri Kapten Kosasih dan Gozali yang dipanggil "lek" atau paman.

Happy hunting, kalau kalian tertarik..dan kalau kalian punya novel beliau dan ingin menjualnya, silakan  kontak aku di email keluarga_cinta@yahoo.com, ya...syaratnya buku harus dalam kondisi bersih dan Bagus 😉

Friday, November 25, 2011

Masakan Peranakan Tionghoa Semarang

Masakan peranakan Tionghoa Semarang
Masakan Peranakan Tionghoa Semarang
Toga Mas, Margorejo
Rp 112,500
13 November 2011



Buku resep paling baru di Lemari Buku Keluarga Cinta ini menarik banget, terutama buat aku orang Semarang yang terdampar di Surabaya dan masih selalu menganggap bahwa masakan paling enak adalah masakan Semarang :D.  Bukan hanya resep resepnya, tapi juga sejarah, tips dan cerita yang ditulis oleh Hiang Marahimin, penulisnya yang dibesarkan di Semarang.

Walaupun belum ada yang aku coba, tapi aku sudah baca dan semua bumbu dan cara masaknya mirip banget dengan masakan Mamie. Terutama Lontong Cap Gomehnya. Mamieku selalu membuat Lontong Cap Gomeh lengkap, ada opor, sambel goreng udang,bubuk kedelai, lodeh terong, dannnn...sate abing !. Sate abing ini menurutku, khas Semarang banget. Mirip rendang, tapi manis dan tidak pedas. Selama aku di Jawa Timur belum pernah aku menemukan lontong yang lengkap dengan sate abingnya.

Ada juga resep Kamar Bola, menu kesukaan almarhum Papie kalau makan di resto Happy, resto favorite keluarga sejak masih di Gang Lombok sampai sekarang sudah pindah ke jalan Gajah Mada. Kamar Bola ini masakan yang berisi aneka bakso dan udang, dimasak dengan saus tomat.

Ada Mie Titee, nasi Bakmoy, Swi Kee, Cap Cay Goreng ala Semarang...yang isinya hanya keekian, bakso, haisom, hipio (usus ikan), kubis dan bumbunya pakai kecap manis,ada babi kecap, sosis, babat gongso dan masih banyak lagi.

Untuk resep camilan, ada Bak Cang, ada Kwe Cang. Apa bedanya? Kalau Bak Cang,ada isinya daging cincang, kalau Kwe Cang, nggak ada isinya, mirip Lupis, dimakan dengan parutan kelapa dan saus gula merah, ada lumpia....aduhhh...pokoknya semua makanan masak kecilku ada di sini. Buku ini harta yang sangat berharga buat aku...

Wednesday, August 10, 2011

Food Photography Made Easy

foodphotography
Toga Mas Surabaya
Rp 63,580
July 2011



Aku excited sekali waktu tahu bahwa akan ada buku Food Photography berbahasa Indonesia  baru yang akan terbit. Apalagi penyusunnya adalah orang orang yang aku kenal dengan baik di milis NCC dan KBB, yaitu Riana Ambarsari, Arfi Binsted, Dita Wistarini dan Irra Fachriyanthi - yang kemudian menamakan diri mereka "Empat Rana"

Karena itu waktu ke Toga Mas beberapa waktu yang lalu aku sempatkan mencari buku ini dan dapat.

Walaupun aku beli beberapa buku bersamaan dengan FPME, tapi buku ini menjadi prioritas untuk aku baca. Isinya lumayan bermanfaat untuk orang yang baru belajar photography seperti aku. Sebagian besar memang sudah dibahas di blog blog mereka yang rajin aku kunjungi, tapi kalau dikumpulkan dalam satu buku begini jadi lebih enak membacanya :)

Dua yang mengganjal buat aku sebagai pembaca awam (yang bermata minus + plus dan kalau baca buku sambil tiduran) adalah banyaknya photo photo yang dibuat terlalu besar, layoutnya satu halaman full, terlalu closed up, dan beberapa diantaranya pecah (seperti misalnya di halaman 6,7,49,70,105). Menurutku akan lebih menarik kalau tidak sebesar itu.

Yang kedua adalah, ketika membandingkan beberapa photo untuk melihat perbedaan, photo photo tersebut diletakkan dalam halaman yang berbeda. Misalnya pada bagian penjelasan soal Aperture. Photo semangkuk kacang dan setumpuk buku ada di halaman 19,20 dan 21 lalu pembahasannya di halaman 22. Ketika kita mau melihat berbedaannya, repot harus membalik balik halaman. Akan lebih mudah apabila dibuat seperti halaman 102, di mana 2 photo yang diperbandingkan ada dalam satu halaman jadi bisa langsung kelihatan bedanya.

The rest, OK...photonya cantik cantik dan bikin ngiler (terutama koleksi propertinya Arfi dan Ditta), bahasanya juga mudah dimengerti. Worth buying dan recommended untuk food photographer dan food blogger.

Congrats, Empat Rana :)

Seri si Cacing....

Cacing


Aku tertarik untuk beli dan baca buku ini gara gara promosi Yin, sahabatku.

Pengarangnya Ajahn Brahm, sarjana lulusan Cambridge yang memutuskan untuk hidup selibat sebagai Biksu, mendirikan biara di Australia. Brahm yang biasa hidup nyaman, rela hidup sebagai pengemis,sambil tetap menjalankan misi kemanusiaan. Bersama teman teman sesama Biksu dia mengunjungi penjara, rumah sakit dan tempat tempat di mana lebih banyak orang yang tidak beruntung, untuk membangkitkan semangat mereka.

Buku ini berisi khotbah khotbah dan pengalaman Brahm selama menjadi Bhiksu...

Ada 3 seri si Cacing yang sudah beredar di toko buku yaitu Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (judul asli : Opening the Door of Your
Heart), Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2 dan Hore, guru si Cacing sudah datang.

Ada satu cerita yang mendalam banget buat aku. Yaitu saking miskinnya, Brahm harus membangun sendiri tembok biaranya. Karena dia bukan ahli, pada saat memasang batu bata untuk tembok,dari 100, ada 2 batu bata yang letaknya tidak benar, tapi karena sudah terlanjur jadi, Brahm tidak sanggup untuk membongkar dan membuat dari awal. Alih alih, dia berusaha menyembunyikan batu bata yang jelek itu dari pandangan orang yang datang mengunjungi biara. Selalu dia berusaha mengajak tamunya lewat jalan lain selain tembok tersebut. Dan sejauh itu berhasil.

Sampai datang seorang Guru Besar ke biara mereka. Walaupun sudah diajak melewati jalan lain, sang Guru memaksa melihat tembok buatan Brahm. Anehnya Guru tersebut tidak memberi komentar apa apa selain "Bagus". Brahm yang keheranan malah bertanya dengan penasaran, apakah sang Guru tidak melihat ada 2 batu bata yang posisinya jelek. Sang Guru dengan bijak menjawab, dari 100 hanya ada 2 yang jelek, berarti ada 98 yang bagus. Demikian juga dalam hidup kita,kalau dari 100 perbuatan yang kita lakukan, hanya ada 2 kesalahan, atau ketidak sempurnaan, usahlah menyesali diri dan rendah diri karena kesalahan tersebut, masih ada 98 hal baik yang bisa membuat kita berpikir positif.

Judul si Cacing dan Kotoran Kesayangannya ini diambil dari cerita terakhir di buku pertama. Ceritanya tentang 2 orang bersahabat yang meninggal bersamaan. Ketika satu dari mereka sampai di Nirwana sebagai Dewa, ia mencari cari sahabatnya. Kemanapun dicari tidak ketemu, sampai akhirnya sang sahabat ditemukan hidup kembali sebagai seekor cacing dalam onggokan kotoran binatang. Oleh sang Dewa, si Cacing diajak hidup di Nirwana yang sudah pasti jauh lebih nyaman. Tapi si Cacing tidak merasa senang hidup dalam kenyamanan Nirwana, versi dia, hidup dalam onggokan kotoran itu jauh lebih bnayam. Akhir cerita ia kembali hidup sebagai cacing. Demikian juga dengan kita, kadang kita lebih suka berkecimpung dalam kehidupan yang 'ruwet' menggeluti masalah daripada hidup 'bersih'

Hebatnya, seri si Cacing memberi garansi uang kembali 100% kalau setelah membaca buku ini kita tidak merasakan perubahan apapun. Dan....tampaknya saya tidak bisa mengclaim 100% uang kembali, karena saya banyak memetik manfaat dan pelajaran dari buku ini :D